Enggan Menjual Mobil Bekas Merek China, Pedagang Nunggu 5 Tahun Lagi

24/06/2019 Fatchur Sag Pasar Mobil

Terus berupaya meyakinkan masyarakat dengan produk-produknya yang berkualitas dan fitur yang berlimpah belum membuat pedagang mobil bekas kepincut berat. Soal durability jadi alasan mereka enggan menjual mobil bekas merek China dan memilih menunggu sampai 5 tahun ke depan.

Hampir dua tahun merek China Wuling hadir di Indonesia membawa model low MPV Confero S. Selama itu pula Wuling terus berkembang dan menunjukkan eksistensinya kepada masyarakat jikalau merek China sekarang beda dengan merek China yang dulu. Menyusul berikutnya ada Dongfeng Sokon (DFSK) yang juga turut merambah bisnis otomotif roda empat di tanah air dengan meluncurkan SUV Glory 580.

Foto seorang model berpose bersama Wuling Confero S di pameran GIIAS 2017

Wuling Confero S, berlimpah fitur dengan harga sangat terjangkau

Selain model yang kekinian dan fitur yang berlimpah, baik Wuling maupun DFSK masih menawarkan keunggulan lain kepada konsumen, yaitu harga yang sangat terjangkau. Produk keduanya dijual dengan harga yang cukup jauh di bawah harga model lain satu segmen. Seperti misalnya Wuling Confero S 1.5 M/T tipe tertinggi dijual dengan harga Rp 181,8 juta (OTR Jakarta, Juni 2019), termurah diantara mobil low MPV lain yang harganya sudah di atas Rp 200 juta. Begitu juga dengan SUV Glory 580 yang saat ini dijual dengan harga Rp 308 untuk tipe termahalnya, Luxury (1.5T) CVT, jauh lebih murah dibanding model lain di kelas medium SUV.

>>> Ingin membeli mobil bekas terbaik di pasaran? Dapatkan informasinya di sini

Meski demikian, berbagai keunggulan di atas belum mampu meyakinkan para pedagang mobil bekas untuk menjual mobil bekas merek China. Menurut salah satu pedagang di MGK Kemayoran, keengganan mereka bukan karena antipati pada merek China, tapi lebih karena kondisi pasar. "Saat ini masih belum. Karena memang pasarannya masih kurang bagus," tutur pria dengan panggilan Andi seperti dikutip dari Liputan6, Rabu (20/6/2019).

Alasan lain yang membuat Andi belum berani mengambil risiko dengan menjual mobil bekas merek China adalah soal durability. Mobil China yang umurnya baru sekitar 2 tahun masih menyimpan tanda tanya besar untuk kedepannya. "Mungkin kita masih harus menunggu dan lihat bagaimana 5 tahun ke depan setelah mereka habis masa garansinya," ujar Andi.

>>> Mobil Barunya Tak Laris, Mobil Bekas Nissan Grand Livina Juga Kurang Diminati

Foto mobil-mobil dijual di diler mobil bekas di MGK Kemayoran

Pedagang mobil bekas masih enggan menjual produk merek China, takut jualannya tak laku dan rugi

Sama halnya dengan Andi, pedagang lain di MGK Kemayoran bernama Halim juga memilih bermain aman dan tidak menjual mobil bekas merek China. "Cina gak berani main. Lihat pasaran Wuling bekasnya jatuh sekali jadi takut. Indonesia masih lihat merek kalau mobil bekas," kata Halim.

Merek China memang masih jadi momok tersendiri di kalangan para pebisnis otomotif. Skema hit and run pabrikan motor China di masa lampau yang membuat konsumen kesulitan mendapatkan layanan after sales menimbulkan stigma negatif dan trauma tersendiri yang susah dihilangkan. Walhasil, saat Wuling dan DFSK mencoba serius menjual produk unggulannya di Indonesia, masyarakat gantian wait and see. Mereka masih ingin melihat sejauh mana keseriusan mereka melayani konsumen, tidak hanya dalam hal penjualan tapi juga layanan lain yang lebih penting yaitu purna jual. Belum lagi masyarakat juga ingin melihat sejauh mana kualitas produk merek China bertahan mengaspal di Indonesia yang memiliki kontur jalanan yang sangat beragam.

>>> Soal Persaingan, Ini PR Berat Merek China Di Indonesia

DFSK menyasar konsumen kelas menengah ke bawah dengan Glory 560

>>> Beragam berita informatif dunia otomotif hanya di Mobilmo

Mungkin anda ingin baca